Betah di Rumah Teman Bagian 1

pascal-edu.com – Farid di hari Minggu, lagi-lagi pamit mau main ke rumah Vito, teman yang juga tetangganya. “Kak, kamu senang sekali main ke rumah Vito? Di sana main apa saja, sih?” tanya Rita, sang mama. “Di sana banyak temen, bisa main game Fifa 14. Lagian buku cerita di rumah Vito banyak banget,” jawab bocah berusia 8 tahun itu. Meskipun Rita yakin Farid diterima dengan baik di keluarga Vito, Rita tetap penasaran, kenapa anak sulungnya itu, hobi banget main ke rumah teman. Malah, terkadang Farid lupa waktu, sehingga harus dipanggil pulang. Memang, lokasi tempat bermainnya tidak jauh, masih berada di satu kompleks yang sama. Di rumah, mainan Farid juga enggak kurang. Apalagi buku bacaan. Tapi kok, dia masih saja lebih betah di rumah temannya.

BUTUH TEMAN DAN KENYAMANAN

Menurut Febiana Pratomo, M.Psi, ada banyak kemungkinan mengapa anak betah di rumah temannya. Alasan pertama, jika ia merupakan anak tunggal, tidak punya kakak/adik yang diajak bicara dan bermain, maka tujuannya bermain adalah untuk mencari teman demi melakukan kegiatan yang menyenangkan. Kedua, si teman memang anak yang baik hati dan menyenangkan. Begitu pula dengan keluarganya yang terbuka dan hangat. Rasa nyaman anak saat bertandang ke sana membuatnya jadi betah.

Ketiga, fasilitas permainan di rumah si teman lebih lengkap dibanding yang dimiliki anak. Keempat, aturan di rumah kawannya itu lebih longgar ketimbang di rumahnya yang mungkin banyak larangan. Aturan yang longgar biasanya ditemui pada keluarga dengan kedua orangtua bekerja. Karena kurang ada pengawasan, anakanak pun bisa bermain lebih bebas. Kelima, ketidaknyamanan di rumah. Entah karena orangtua sering kon?ik atau ia sering diganggu oleh kakak/ adiknya. Ketegangan di rumah mendorong anak untuk mencari tempat yang lebih nyaman. Nah, kemungkinan ia menemukan di rumah temannya itu.

PERLU PENGAWASAN ORANGTUA

Apa pun alasannya, bermain (dengan teman sebaya) merupakan kebutuhan anak yang sebenarnya perlu dipenuhi. Jadi, sebetulnya tak masalah anak sering main ke rumah teman. Hanya saja tentu kita perlu berempati dengan si tuan rumah. Jadi, meski lokasi rumah si teman dekat, keluarga si teman juga kita kenal baik, tetap perlu ada pengawasan dan aturan. Harus juga dilihat apakah kedatangan anak yang terlalu sering membuat keluarga temannya itu keberatan/ terganggu. Bisa saja orangtua si teman menganggap, kedatangan buah hati membuat anaknya jadi ketagihan main game.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *