Tips Mendidik Anak Terupdate

Patuhi Aturan

generasimaju.com – Anak patut diajarkan untuk mematuhi peraturan saat bermain ke rumah teman, seperti:

• Pulang tepat waktu sesuai kesepakatan. Anak perlu tahu kapan waktunya bermain, kapan waktu harus pulang. Di hari sekolah, misal, waktu bermain hanya sore hari pukul 4—5. Sesudah itu anak harus pulang, membersihkan diri, dan jika sudah di rumah tidak lagi main keluar. Ketika hari libur, anak boleh main ke rumah temannya dari pagi sampai siang. Ketika waktunya makan siang dia harus sudah pulang dan sore hari digunakan untuk beristirahat di rumah.

• Bertamu harus tahu aturan. Sebagai tamu, anak juga harus tahu aturan. Ia harus bersikap sopan, mengucapkan salam ketika masuk, meminta izin bila ingin sesuatu, mengikuti aturan yang diterapkan di rumah temannya, misal tidak boleh masuk/main ke kamar tidur, tidak melakukan sesuatu yang merusak/membahayakan saat bermain, pamit ketika pulang dan lain-lain. Anak juga harus tahu bahwa setiap rumah mempunyai aturan yang mungkin berbeda dengan aturan di rumahnya.

Sering Didatangi = Pintar Bergaul

Beruntunglah orangtua yang mempunyai anak yang sering didatangi oleh teman-temannya. Ini pertanda si anak termasuk anak yang populer, supel, baik hati, dan mempunyai pribadi yang menyenangkan. Maka itu banyak temannya yang senang dan nyaman bermain dengannya. Anak yang banyak teman ini juga menunjukkan dirinya mempunyai keterampilan sosial yang sangat baik.

Anak Lelaki Lebih Sering Main Ke Luar Rumah

Ternyata main ke rumah teman cenderung lebih banyak dilakukan anak lelaki ketimbang anak perempuan. Mengapa? Ini terkait dengan anak laki-laki yang lebih menyukai permainan yang penuh tantangan dan juga permainan fi sik. Jenis permainan ini umumnya membutuhkan adanya lawan, seperti main bola dan video game. Sementara anak perempuan cenderung suka pada aktivitas verbal, seperti mengobrol atau curhat. Kegiatan ini umumnya bisa terpenuhi “hanya” dengan lewat telepon atau instant messaging tanpa perlu keluar rumah.

Jangan Diam Sendiri Di Rumah

Dengan berbagai fasilitas teknologi sekarang ini, seperti laptop, TV, video game, dan berbagai gadget canggih lainnya, ada beberapa anak yang justru terlalu betah di rumah dan tak mau bermain keluar. Ia tidak lagi memerhatikan lingkungan dan tak peduli dengan keberadaan orang-orang di sekitarnya. Keasyikannya dengan diri sendiri ini menyebabkan keterampilan sosial anak jadi tidak terlatih.

Ketika ia harus bersosialisasi, anak tidak tahu bagaimana harus memulai, ketika ia menemui konfl ik dia tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Anak akhirnya cenderung menarik diri. Semakin bertambah usia, semakin menghadapi kehidupan sosial yang lebih luas dan memasuki dunia kerja, ia akan menemui kesulitan dan kebingungan. Ketidakmampuannya dalam berkomunikasi dengan atasan atau rekan kerja, tentu akan berpengaruh pada kesuksesan diri. Untuk itu tetap doronglah ia untuk bermain bersama teman-temannya.

Betah di Rumah Teman Bagian 2

sat-jakarta.com – Padahal, ada aturan di rumah itu kalau bermain game hanya boleh satu atau dua jam, misal. Cermati pula apakah ada orang dewasa yang mengawasi ketika anak bermain bersama temannya di sana. Untuk itulah, kita perlu mengenal keluarganya dengan baik dan berkomunikasi rutin. Dengan saling memonitor, dampak negatif yang mungkin terjadi bisa dihilangkan. Misal, kita tak perlu khawatir, kegiatan bermain mereka mengarah pada hal-hal negatif, seperti menonton flm yang tak pantas, main games yang tidak mendidik, dan sebagainya. Adanya komunikasi di antara orangtua juga membuat kita bisa “menitip” anak, saling minta tolong mengawasi anak-anak saat mereka bermain bersama.

MEMBUAT NYAMAN DI RUMAH

PR lain bagi kita adalah menciptakan home sweet home. Memang tak apa jika si usia sekolah bermain ke rumah temannya, tapi dia pun perlu merasa nyaman di rumah sendiri. Di sinilah kita perlu belajar dan melakukan introspeksi dari alasan yang dikemukakan anak. Tak perlu gengsi untuk mencontoh kebiasaan/hal positif yang ada di rumah si teman yang bisa membuat anak betah. Bila perlu tanyakan pada orangtua si teman apa yang dilakukan buah hati saat ada di sana. Jangan-jangan ia “cuma” baca buku cerita, tapi sambil ngemil kue buatan si tuan rumah. Nah, kita bisa menanyakan resepnya lalu mencoba di rumah.

Bila perlu, libatkan buah hati saat membuatnya. “Farid, Mama tahu kamu senang brownies buatan mamanya Vito. Nih, Mama sudah dapat resepnya. Yuk, kita buat.” Aktivitas-aktivitas bersama seperti ini, selain bisa meningkatkan kualitas hubungan anak dan orangtua, juga membuat anak lebih betah di rumah. Jadi, mudah, kok, menciptakan situasi/kondisi seperti di rumah teman. Papa, misalnya, bisa menjadi lawan saat bermain PlayStation.

Kedekatan dengan orangtua yang telah terjalin, akan mendorong anak untuk belajar membagi porsi waktu bermain antara teman dan orangtuanya. Jadi, ketika ada orangtuanya di rumah, anak bisa memilih untuk tidak bermain ke rumah temannya. Tak ada salahnya juga meminta anak mengundang para sobatnya ke rumah. Atau minta anak bergantian main di rumah kawan-kawan lainnya.

Hal ini bisa dibicarakan dengan orangtua teman-teman si anak. Dengan berpindah-pindah tempat bermain, anak akan belajar beradaptasi dengan lingkungan dan suasana baru. Ia juga belajar mengenai aturanaturan yang berbeda dari setiap rumah temannya, belajar menaati dan menghargai aturan yang berbeda tersebut.

Betah di Rumah Teman Bagian 1

pascal-edu.com – Farid di hari Minggu, lagi-lagi pamit mau main ke rumah Vito, teman yang juga tetangganya. “Kak, kamu senang sekali main ke rumah Vito? Di sana main apa saja, sih?” tanya Rita, sang mama. “Di sana banyak temen, bisa main game Fifa 14. Lagian buku cerita di rumah Vito banyak banget,” jawab bocah berusia 8 tahun itu. Meskipun Rita yakin Farid diterima dengan baik di keluarga Vito, Rita tetap penasaran, kenapa anak sulungnya itu, hobi banget main ke rumah teman. Malah, terkadang Farid lupa waktu, sehingga harus dipanggil pulang. Memang, lokasi tempat bermainnya tidak jauh, masih berada di satu kompleks yang sama. Di rumah, mainan Farid juga enggak kurang. Apalagi buku bacaan. Tapi kok, dia masih saja lebih betah di rumah temannya.

BUTUH TEMAN DAN KENYAMANAN

Menurut Febiana Pratomo, M.Psi, ada banyak kemungkinan mengapa anak betah di rumah temannya. Alasan pertama, jika ia merupakan anak tunggal, tidak punya kakak/adik yang diajak bicara dan bermain, maka tujuannya bermain adalah untuk mencari teman demi melakukan kegiatan yang menyenangkan. Kedua, si teman memang anak yang baik hati dan menyenangkan. Begitu pula dengan keluarganya yang terbuka dan hangat. Rasa nyaman anak saat bertandang ke sana membuatnya jadi betah.

Ketiga, fasilitas permainan di rumah si teman lebih lengkap dibanding yang dimiliki anak. Keempat, aturan di rumah kawannya itu lebih longgar ketimbang di rumahnya yang mungkin banyak larangan. Aturan yang longgar biasanya ditemui pada keluarga dengan kedua orangtua bekerja. Karena kurang ada pengawasan, anakanak pun bisa bermain lebih bebas. Kelima, ketidaknyamanan di rumah. Entah karena orangtua sering kon?ik atau ia sering diganggu oleh kakak/ adiknya. Ketegangan di rumah mendorong anak untuk mencari tempat yang lebih nyaman. Nah, kemungkinan ia menemukan di rumah temannya itu.

PERLU PENGAWASAN ORANGTUA

Apa pun alasannya, bermain (dengan teman sebaya) merupakan kebutuhan anak yang sebenarnya perlu dipenuhi. Jadi, sebetulnya tak masalah anak sering main ke rumah teman. Hanya saja tentu kita perlu berempati dengan si tuan rumah. Jadi, meski lokasi rumah si teman dekat, keluarga si teman juga kita kenal baik, tetap perlu ada pengawasan dan aturan. Harus juga dilihat apakah kedatangan anak yang terlalu sering membuat keluarga temannya itu keberatan/ terganggu. Bisa saja orangtua si teman menganggap, kedatangan buah hati membuat anaknya jadi ketagihan main game.